New normal kembali digaungkan di tengah meluasnya pandemi Covid-19 dan telah menginfeksi jutaan orang di dunia, termasuk di Indonesia. Pandemi ini membuat hampir seluruh aktivitas dan pekerjaan di segala bidang dilakukan dari rumah, termasuk juga sekolah dan kegiatan pendidikan lainnya. Perubahan ekstrem ini telah memberi dampak yang sangat besar bagi kehidupan masyarakat, serta bagi banyak sektor termasuk ekonomi.

Diam di rumah, beraktivitas hingga bekerja di rumah telah memukul keras sektor-sektor penggerak roda perekonomian. Kondisi ini membuat Presiden Joko Widodo ( Jokowi) juga mengajak masyarakat untuk dapat hidup berdamai dengan Covid-19, serta munculnya konsep new normal life, yang secara bertahap mulai diimplementasikan.

New normal menurut Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmita adalah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal. Prinsip utama dari new normal adalah menyesuaikan dengan pola hidup. Protokol kesehatan menjadi aturan yang disebutkan dalam implementasi new normal, yakni dengan menjaga jarak sosial dengan mengurangi kontak fisik dengan orang lain. Wiku mengatakan masyarakat akan menjalani kehidupan new normal hingga ditemukan vaksin, yang dapat digunakan untuk menangkal virus corona. Ia juga mengatakan bahwa transformasi ini adalah untuk menata kehidupan dan perilaku baru, ketika pandemi, yang kemudian akan dibawa terus ke depannya sampai ditemukan vaksin untuk Covid-19.

Presiden Joko Widodo meminta jajarannya untuk melakukan sosialisasi secara besar-besaran mengenai new normal atau tatanan normal baru di tengah pandemi Covid-19. Dalam rapat kabinet terbatas lewat video conference, Jokowi meminta protokol beradaptasi dengan tatanan normal baru yang sudah disiapkan oleh Kemenkes ini disosialisasikan secara masif kepada masyarakat. Jokowi menyebut, sosialisasi yang masif akan membuat masyarakat lebih memahami apa yang harus dilakukan saat beraktivitas di luar rumah. Misalnya, mulai dari menjaga jarak, memakai masker, mencuci tangan, hingga soal larangan berkerumun. Hal itu untuk menghindari penularan virus corona atau Covid-19. Beliau juga mengatakan bahwa jika sosialisasi ini betul-betul bisa kita lakukan secara masif, Beliau yakin kurva betul-betul bisa diturunkan, seperti yang sudah bisa dilakukan di beberapa provinsi.

Source: Kompas.com

Open chat